Ilmuwan Temukan Petunjuk Baru Terapi Kanker pada Anak-Anak

Para ilmuwan yang berasal dari Australia, yang biasa menangani bentuk terlazim dari kanker pada usia dini atau anak-anak, telah membuat terobosan penting dalam memahami penyebab tumbuhnya kanker tersebut.


Anak-anak yang hidup dengan ‘neuroblastoma’, atau kanker sistem syaraf, seringkali baru terdiagnosa ketika kanker-nya telah memasuki tahap lanjut.

Sementara tingkat bertahan hidup dari anak-anak penderita kanker umumnya begitu tinggi, tingkat bertahan hidup dari penderita ‘neuroblastoma’ justru sekitar 50% dan belum membaik selama satu dekade terakhir ini.
Profesor Glenn Marshall dari Institut Kanker Anak-Anak dan juga tim-nya telah menemukan sebuah gen yang terhubung dengan penyebab ‘neuroblastoma’ yang bisa memberikan petunjuk baru bagi terapi kanker.

Hasil penelitian tim ini telah menunjukkan bahwa DNA bekas terlibat dalam kemunculan ‘neuroblastoma’ atau kanker sistem syaraf.

Dr. Tao Lui dari institut kanker yang sama menemukan bahwa sebuah makromolekul ‘RNA’ baru, yang berbentuk panjang dan belum bernama- RNA adalah salah satu elemen penyusun embrio penting di samping DNA –memainkan peran penting dalam pembentukan tumor ‘neuroblastoma’.

“Saya mulai meneliti sebuah RNA khusus yang belum punya nama, karena memang belum pernah diteliti sebelumnya,” jelas Dr. Tao.

Ia mengatakan, sebuah studi tentang tumor ‘neuroblastoma’ menunjukkan adanya keterkaitan langsung antara tingkat bertahan hidup yang rendah dengan tingkat yang lebih tinggi dari RNA berjenis khusus ini.

Para ilmuwan juga telah mengetahui bahwa gen lain, yakni MYCN, juga berkontribusi dalam kemajuan kanker sistem syaraf ‘neuroblastoma’.

Temuan baru dapat memberi petunjuk mengenai terapi kanker

Profesor Glenn mengungkapkan, berdasarkan penemuan tersebut, tim-nya telah menguji coba sebuah perawatan potensial di laboratorium.


“Penelitian Dr. Tao telah meningkatkan pemahaman kita akan penyebab berkembangnya neuroblastoma dan menyingkap target potensial lainnya bagi penyakit langka yang membahayakan ini,” jelasnya.

Penelitian ini telah diterbitkan dalam Jurnal Institut Kanker Nasional.