Karya Seniman Jalanan Indonesia Tampil di Australia

Karya 3 seniman jalanan dari Yogyakarta: Soni Irawan, Iyok Prayogo dan Lugas Syllabus tengah dipamerkan di sebuah galeri di pusat kota Melbourne.



Pameran berjudul New Undergrounds: Indonesian Contemporary ini berlangsung dari tanggal 24 Juli 2014 hingga 16 Agustus 2014 bertempat di galeri Fort Delta  Melbourne. 
Sebanyak 15 karya senirupa berbentuk lukisan maupun seni tiga dimensi ditampilkan dalam pameran yang merupakan kerjasama antara dua lembaga: Fort Delta dan MiFA Gallery.
Step by Step, My Friend karya Lugas Syllabus

Menurut keterangan pameran, ini adalah pertama kalinya karya Soni, Iyok dan Lugas ditampilkan dalam satu pameran. Namun, ketiga seniman tersebut memiliki beberapa kesamaan.
Antara lain, ketiganya menyuarakan sebuah bentuk revolusi sosial, ketiganya menggunakan dongeng-dongeng yang sudah diceritakan turun temurun, dan ketiganya seniman yang terbilang muda yang lulus dari Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, antara tahun 1997 hingga 2008.
Karya Soni yang dipamerkan dalam New Undergrounds antara lain 'Ultra Black Flat' (Fiberglass, kayu, metal, pewarna) dan 'Fake Fact' (Akrilik, enamel, cat minyak, kanvas).
Iyok Prayogo lulus dari ISI Yogyakarta tahun 2004. Ia pernah mengikuti beberapa pameran bersama antara lain WANGSA MARABAHAYA di Sydney tahun 2012. Karya-karya Iyok yang ditampilkan dalam New Undergrounds adalah 'Walk on By' (Enamel, plexiglass, kotak hard case) dan 'Going Metal' (Enamel, plexiglass, kotak hard case).
Lugas Syllabus lulus dari ISI Yogyakarta tahun 2008. Ia pernah mengadakan pameran tunggal antara lain 'Neo Adaptasi' di Singapura tahun 2008. Karyanya yang ditampilkan kali ini adalah 'Step by Step, My Friend'.
"Karya-karya seniman ini menguatkan perubahan-perubahan sosio-politis yang dilalui Indonesia untuk mencapai demokrasi," bunyi rilis pameran. 
Bryan Collie, Direktur Kozminksy Art Salon, adalah salah seorang yang berperan penting dalam penyelenggaraan pameran ini. Collie berprofesi sebagai dealer karya seni, dan sudah sejak tahun 1980an melakukan jual beli karya seni di kawasan Asia dan Pasifik.
Sebelumnya, Ia juga pernah membawa seniman Darbotz dari Jakarta ke Melbourne.
Menurut Collie, masih banyak orang di Australia yang salah paham tentang dunia seni di Asia, terutama seni kontemporer. Banyak yang menganggap bahwa begitu ada pameran yang menampilkan seni dari Asia Pasifik, yang ditampilkan pasti tak jauh dari seni tradisional seperti batik atau ukiran bercorak tradisional.
Padahal, lanjutnya, justru seni kontemporer di Asia Pasifik berkembang pesat dan mengalahkan Australia.
Lady Candy karya Soni Irawan (Foto: Dina Indrasafitri)
"Saya rasa seni kontemporer kita bisa lebih baik bila mendekatkan diri pada seniman-seniman di Asia Pasifik, dan kita harus menerima budaya mereka," ucap Collie pada Australia Plus, "dan jalannya masih panjang."
Ia mengaku sudah lama bergaul dengan seniman-seniman Yogyakarta. Kali ini, Ia ingin memberi panggung pada seniman-seniman jalanan kota itu, karena, menurutnya, persaingan untuk mendapat panggung di galeri-galeri Yogyakarta cukup sengit.
Pameran New Undergrounds menargetkan pengunjung muda, jelas Collier, selain itu juga pengunjung yang berasal dari Asia.
"Tujuan saya adalah berusaha menghubungkan berbagai budaya melalui seni."


Noor Alifa seorang mahasiswa asal Indonesia yang menghadiri pembukaan pameran New Undergrounds, mengakui menyukai beberapa karya, namun Ia juga menyayangkan mengapa tak ada keterangan mengenai cerita atau pesan yang ada di balik karya-karya tersebut.